Dukungan ISO 9001:2026

 


Dukungan ISO 9001:2026: Sumber Daya, Kompetensi, Komunikasi, dan Dokumen yang Membuat Sistem Mutu Berjalan

Organisasi dapat memiliki visi yang kuat, kebijakan mutu yang baik, dan sasaran yang terukur.

Namun, semua itu tidak akan menghasilkan perubahan jika organisasi tidak memiliki:

  • orang yang cukup;
  • pegawai yang kompeten;
  • sarana yang layak;
  • lingkungan kerja yang mendukung;
  • pengetahuan yang terpelihara;
  • komunikasi yang jelas; dan
  • informasi terdokumentasi yang terkendali.

ISO 9001:2026 menempatkan kebutuhan tersebut dalam Klausul 7 tentang Dukungan.

Klausul ini mencakup:

  1. 7.1 Sumber Daya;
  2. 7.2 Kompetensi;
  3. 7.3 Kepedulian;
  4. 7.4 Komunikasi; dan
  5. 7.5 Informasi Terdokumentasi.

Klausul 6 menjelaskan apa yang direncanakan. Klausul 7 memastikan organisasi memiliki dukungan untuk melaksanakan rencana tersebut.


7.1 Sumber Daya

Apa yang Dimaksud Sumber Daya?

Sumber daya adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membangun, menjalankan, memelihara, dan meningkatkan Sistem Manajemen Mutu.

Sumber daya tidak hanya berarti anggaran.

ISO 9001 mencakup beberapa kelompok sumber daya:

  • manusia;
  • infrastruktur;
  • lingkungan untuk menjalankan proses;
  • sumber daya pemantauan dan pengukuran; serta
  • pengetahuan organisasi.

7.1.1 Ketentuan Umum

Organisasi harus menentukan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan dengan mempertimbangkan:

  • kemampuan sumber daya internal;
  • keterbatasan sumber daya internal;
  • kebutuhan yang harus diperoleh dari pihak luar;
  • sasaran yang ingin dicapai;
  • risiko dan peluang;
  • perubahan organisasi; dan
  • kebutuhan proses.

Pertanyaan dasarnya bukan hanya, “Apakah kita memiliki sumber daya?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah sumber daya yang tersedia cukup dan sesuai untuk menghasilkan layanan yang diharapkan?”

7.1.2 Manusia

Organisasi harus menyediakan orang yang diperlukan untuk menjalankan proses dan mengendalikan Sistem Manajemen Mutu.

Kecukupan manusia perlu dilihat dari:

  • jumlah;
  • kualifikasi;
  • kompetensi;
  • beban kerja;
  • pembagian tugas;
  • ketersediaan waktu;
  • keberlanjutan tenaga; dan
  • kebutuhan pengganti.

Contoh persoalan sumber daya manusia:

  • jumlah guru tidak sebanding dengan rombongan belajar;
  • satu pegawai memegang terlalu banyak fungsi;
  • jabatan penting belum terisi;
  • beban administrasi mengurangi waktu pembelajaran;
  • tidak ada petugas cadangan;
  • pergantian pegawai terlalu tinggi; dan
  • pembagian tugas tidak mengikuti struktur terbaru.

Menempatkan satu orang pada suatu jabatan tidak otomatis berarti kebutuhan sumber daya manusia telah terpenuhi.

7.1.3 Infrastruktur

Infrastruktur adalah fasilitas fisik maupun digital yang dibutuhkan untuk menjalankan proses.

Dalam yayasan pendidikan, infrastruktur dapat mencakup:

  • ruang belajar;
  • asrama;
  • masjid;
  • laboratorium;
  • perpustakaan;
  • ruang layanan;
  • kendaraan;
  • perangkat pembelajaran;
  • jaringan internet;
  • server;
  • aplikasi;
  • LMS;
  • sistem keuangan;
  • sistem penyimpanan data;
  • alat komunikasi; dan
  • fasilitas keselamatan.

Organisasi harus memastikan infrastruktur:

  • tersedia;
  • sesuai kebutuhan;
  • aman;
  • berfungsi;
  • dipelihara;
  • diperbaiki ketika rusak; dan
  • mampu mendukung keberlangsungan layanan.

Pengadaan fasilitas tanpa pemeliharaan bukan pengelolaan sumber daya yang efektif.

7.1.4 Lingkungan untuk Menjalankan Proses

Lingkungan proses mencakup kondisi fisik, sosial, dan psikologis yang dibutuhkan agar pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.

Kondisi fisik

Contohnya:

  • pencahayaan;
  • suhu;
  • kebersihan;
  • ventilasi;
  • kebisingan;
  • keamanan;
  • sanitasi;
  • ketersediaan air; dan
  • kenyamanan ruang.

Kondisi sosial

Contohnya:

  • kerja sama;
  • komunikasi;
  • penghargaan;
  • kedisiplinan;
  • hubungan antarunit; dan
  • perlakuan yang adil.

Kondisi psikologis

Contohnya:

  • beban kerja yang wajar;
  • rasa aman;
  • tidak ada intimidasi;
  • dukungan pimpinan;
  • kesempatan menyampaikan masalah; dan
  • perlindungan dari kelelahan kerja.

Lingkungan kerja yang tidak sehat dapat menurunkan kualitas layanan meskipun prosedurnya sudah lengkap.

7.1.5 Sumber Daya Pemantauan dan Pengukuran

Organisasi harus memastikan alat dan metode pengukuran menghasilkan data yang dapat dipercaya.

Dalam lembaga pendidikan, sumber daya pengukuran tidak selalu berupa alat laboratorium.

Contohnya:

  • instrumen asesmen;
  • soal ujian;
  • rubrik penilaian;
  • angket kepuasan;
  • aplikasi presensi;
  • alat ukur kesehatan;
  • timbangan;
  • termometer;
  • alat laboratorium;
  • formulir observasi;
  • dasbor kinerja; dan
  • sistem rekapitulasi data.

Organisasi perlu memastikan:

  • alat atau instrumen sesuai tujuan;
  • metode digunakan secara konsisten;
  • petugas memahami cara penggunaan;
  • hasil dapat ditelusuri;
  • alat diperiksa atau dikalibrasi jika diperlukan; dan
  • data dilindungi dari perubahan yang tidak sah.

Contohnya, survei kepuasan tidak akan menghasilkan data yang baik jika pertanyaannya membingungkan atau respondennya tidak sesuai.

7.1.6 Pengetahuan Organisasi

Pengetahuan organisasi adalah pengetahuan yang dibutuhkan untuk menjalankan proses dan menghasilkan layanan yang sesuai.

Pengetahuan dapat berasal dari:

  • pengalaman;
  • praktik baik;
  • hasil evaluasi;
  • hasil penelitian;
  • pelatihan;
  • regulasi;
  • buku;
  • prosedur;
  • data;
  • teknologi;
  • mitra;
  • pakar; dan
  • pengalaman organisasi lain.

Contoh pengetahuan penting dalam yayasan:

  • cara menjalankan penerimaan santri;
  • teknik pembinaan;
  • pengelolaan tahfidz;
  • metode pembelajaran;
  • pengelolaan keuangan;
  • prosedur pengadaan;
  • penggunaan LMS;
  • pengelolaan data;
  • penanganan keluhan; dan
  • penyelenggaraan audit internal.

Risiko Pengetahuan Hilang

Pengetahuan dapat hilang ketika:

  • pegawai mengundurkan diri;
  • pimpinan berganti;
  • proses hanya dikuasai satu orang;
  • dokumen tidak diperbarui;
  • data tidak disimpan;
  • pengalaman tidak dievaluasi; atau
  • tidak ada proses serah terima.

Organisasi dapat menjaga pengetahuan melalui:

  • SOP;
  • instruksi kerja;
  • panduan;
  • basis pengetahuan digital;
  • program induksi;
  • pendampingan;
  • kaderisasi;
  • dokumentasi praktik baik;
  • forum berbagi; dan
  • serah terima jabatan.

Pengetahuan tidak cukup hanya berada dalam ingatan seseorang.


7.2 Kompetensi

Apa Itu Kompetensi?

Kompetensi adalah kemampuan menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Kompetensi berbeda dengan kualifikasi.

Kualifikasi dapat dibuktikan melalui ijazah, sertifikat, atau pengalaman. Kompetensi terlihat dari kemampuan seseorang melaksanakan pekerjaan secara efektif.

Seorang guru dapat memiliki ijazah yang sesuai, tetapi masih membutuhkan kompetensi dalam:

  • pembelajaran mendalam;
  • pengelolaan kelas;
  • asesmen;
  • penggunaan LMS;
  • komunikasi dengan orang tua; dan
  • pemanfaatan teknologi.

Langkah Mengelola Kompetensi

1. Menentukan kompetensi yang dibutuhkan

Kompetensi harus ditetapkan berdasarkan peran dan proses.

Contohnya:

PeranKompetensi yang diperlukan
GuruPenguasaan materi, pedagogi, asesmen, teknologi, dan komunikasi
PembinaPembinaan karakter, komunikasi santri, kedisiplinan, dan penanganan kasus
Auditor internalPemahaman ISO, teknik audit, analisis bukti, dan pelaporan
Staf keuanganPengelolaan transaksi, ketelitian, aplikasi keuangan, dan kerahasiaan
Staf ITInfrastruktur, keamanan data, pencadangan, dan dukungan pengguna
Pimpinan unitPerencanaan, pengambilan keputusan, pemantauan, dan kepemimpinan

2. Menilai kompetensi aktual

Organisasi perlu membandingkan kebutuhan jabatan dengan kemampuan orang yang menjabat.

Penilaian dapat menggunakan:

  • observasi;
  • hasil kerja;
  • wawancara;
  • tes;
  • evaluasi kinerja;
  • supervisi;
  • portofolio;
  • sertifikasi; dan
  • umpan balik pelanggan.

3. Menutup kesenjangan kompetensi

Tindakan dapat berupa:

  • pelatihan;
  • pendampingan;
  • pembinaan;
  • belajar mandiri;
  • rotasi;
  • magang;
  • sertifikasi;
  • rekrutmen;
  • penugasan bersama; atau
  • penggunaan tenaga ahli.

4. Menilai efektivitas tindakan

Kehadiran dalam pelatihan bukan bukti bahwa kompetensi meningkat.

Organisasi perlu menilai:

  • apakah pengetahuan bertambah;
  • apakah keterampilan dapat diterapkan;
  • apakah kinerja berubah;
  • apakah kesalahan berkurang; dan
  • apakah hasil proses membaik.

5. Menyimpan bukti kompetensi

Bukti dapat berupa:

  • ijazah;
  • sertifikat;
  • hasil asesmen;
  • catatan observasi;
  • evaluasi kinerja;
  • portofolio;
  • surat pengalaman;
  • hasil supervisi; dan
  • rekaman evaluasi pelatihan.

Kesalahan Umum dalam Pengelolaan Kompetensi

  • menganggap semua pegawai yang sudah lama bekerja pasti kompeten;
  • mengandalkan ijazah tanpa melihat hasil kerja;
  • mengadakan pelatihan tanpa analisis kebutuhan;
  • tidak menilai efektivitas pelatihan;
  • tidak memperbarui standar kompetensi; dan
  • tidak menyesuaikan kompetensi dengan perubahan teknologi.

7.3 Kepedulian

Apa yang Dimaksud Kepedulian?

Kepedulian atau awareness berarti personel memahami hal penting dalam Sistem Manajemen Mutu dan menyadari dampak pekerjaannya.

Pegawai tidak harus menghafal seluruh isi ISO 9001. Namun, mereka harus memahami:

  • Kebijakan Mutu;
  • sasaran mutu yang relevan;
  • kontribusinya terhadap efektivitas sistem;
  • manfaat peningkatan kinerja;
  • dampak jika tidak memenuhi persyaratan; dan
  • tanggung jawabnya terhadap mutu.

Kompetensi dan Kepedulian Tidak Sama

KompetensiKepedulian
Mampu mengerjakan tugasMemahami mengapa tugas harus dilakukan dengan benar
Menguasai pengetahuan dan keterampilanMenyadari dampak pekerjaannya
Dibuktikan melalui kemampuanDibuktikan melalui pemahaman dan perilaku
Menjawab “bisa atau tidak”Menjawab “peduli atau tidak”

Seseorang dapat kompeten tetapi tidak peduli. Ia mampu mengerjakan tugas, tetapi memilih mengabaikan prosedur.

Sebaliknya, seseorang dapat peduli tetapi belum kompeten. Ia memiliki kemauan yang baik, tetapi masih membutuhkan pelatihan.

Organisasi membutuhkan keduanya.

Cara Membangun Kepedulian

Kepedulian dapat dibangun melalui:

  • orientasi pegawai;
  • pembinaan;
  • rapat unit;
  • komunikasi pimpinan;
  • diskusi temuan;
  • umpan balik;
  • supervisi;
  • evaluasi kinerja;
  • kampanye budaya mutu;
  • keteladanan; dan
  • keterlibatan dalam perbaikan.

Kepedulian tidak cukup dibuktikan hanya dengan daftar hadir sosialisasi.

Bukti yang lebih kuat adalah ketika pegawai:

  • dapat menjelaskan kontribusinya;
  • memahami target unit;
  • menggunakan dokumen yang benar;
  • melaporkan masalah;
  • menjaga bukti pekerjaan; dan
  • ikut melakukan perbaikan.

7.4 Komunikasi

Mengapa Komunikasi Harus Direncanakan?

Banyak masalah organisasi bukan disebabkan oleh ketiadaan kebijakan, tetapi karena informasi:

  • tidak disampaikan;
  • terlambat;
  • disampaikan kepada pihak yang salah;
  • menggunakan saluran yang tidak tepat;
  • tidak dipahami; atau
  • tidak memiliki penanggung jawab.

ISO 9001 meminta organisasi menentukan komunikasi internal dan eksternal yang relevan.

Lima Pertanyaan Dasar Komunikasi

Organisasi harus menentukan:

  1. apa yang dikomunikasikan;
  2. kapan komunikasi dilakukan;
  3. kepada siapa informasi disampaikan;
  4. bagaimana cara menyampaikannya; dan
  5. siapa yang bertanggung jawab menyampaikan.

Contoh Matriks Komunikasi

InformasiWaktuPenerimaMediaPenanggung jawab
Kebijakan mutuSaat induksi dan peninjauan tahunanSeluruh pegawaiPembinaan dan media internalPimpinan dan PM
Perubahan strukturSebelum diberlakukanUnit terdampakSurat keputusan dan rapatPimpinan
Hasil auditSetelah audit selesaiPimpinan dan pemilik prosesLaporan dan rapatAuditor internal
Keluhan orang tuaSesuai batas waktu layananUnit terkait dan orang tuaSistem layanan dan komunikasi resmiHumas
Perubahan kurikulumSebelum tahun pelajaranKepala sekolah dan guruRapat dan dokumenBagian Pendidikan
Gangguan sistemSaat terjadi dan setelah pulihPengguna terdampakPesan resmi dan tiket layananIT

Komunikasi Internal

Komunikasi internal dapat mencakup:

  • kebijakan;
  • sasaran;
  • pembagian tugas;
  • perubahan dokumen;
  • hasil audit;
  • risiko;
  • perubahan proses;
  • kinerja;
  • keluhan; dan
  • tindakan perbaikan.

Komunikasi Eksternal

Komunikasi eksternal dapat mencakup:

  • informasi penerimaan santri;
  • layanan orang tua;
  • laporan kepada pemerintah;
  • kerja sama;
  • komunikasi pemasok;
  • informasi publik;
  • penanganan keluhan; dan
  • komunikasi keadaan darurat.

Tantangan Komunikasi Digital

Penggunaan WhatsApp, email, LMS, aplikasi, dan penyimpanan awan mempercepat komunikasi. Namun, organisasi tetap perlu mengatur:

  • kanal resmi;
  • kewenangan pengirim;
  • perlindungan data;
  • penyimpanan bukti;
  • kejelasan versi;
  • waktu respons;
  • bahasa komunikasi; dan
  • penanganan informasi sensitif.

Pesan yang dikirim ke grup belum tentu dibaca, dipahami, atau dilaksanakan. Organisasi perlu memastikan efektivitas komunikasi.


7.5 Informasi Terdokumentasi

Apa Itu Informasi Terdokumentasi?

Informasi terdokumentasi adalah informasi yang harus dikendalikan dan dipelihara oleh organisasi beserta media yang memuatnya.

Istilah ini lebih luas daripada dokumen tertulis.

Bentuknya dapat berupa:

  • dokumen Word;
  • spreadsheet;
  • formulir;
  • foto;
  • video;
  • rekaman suara;
  • data aplikasi;
  • dasbor;
  • email;
  • notulen;
  • hasil survei;
  • laporan;
  • basis data; dan
  • dokumen cetak.

Dokumen dan Rekaman

Dalam praktik, informasi terdokumentasi dapat dibedakan menjadi dua fungsi.

Dokumen sebagai pedoman

Dokumen menjelaskan apa yang harus dilakukan.

Contohnya:

  • kebijakan;
  • Manual Mutu;
  • SOP;
  • instruksi kerja;
  • pedoman;
  • standar;
  • formulir kosong; dan
  • peta proses.

Rekaman sebagai bukti

Rekaman menunjukkan bahwa kegiatan telah dilakukan.

Contohnya:

  • formulir yang sudah diisi;
  • daftar hadir;
  • laporan audit;
  • hasil asesmen;
  • notulen rapat;
  • bukti transaksi;
  • data survei;
  • foto kegiatan; dan
  • catatan tindak lanjut.

Dokumen perlu dipelihara agar tetap sesuai. Rekaman perlu disimpan sebagai bukti.

Informasi Apa yang Harus Disediakan?

Organisasi perlu menyediakan:

  1. informasi terdokumentasi yang diwajibkan ISO 9001;
  2. informasi yang ditetapkan organisasi sebagai kebutuhan; dan
  3. bukti yang diperlukan untuk menunjukkan bahwa proses berjalan efektif.

Jumlah dokumen harus disesuaikan dengan:

  • ukuran organisasi;
  • jenis layanan;
  • kompleksitas proses;
  • kompetensi personel;
  • tingkat risiko;
  • kebutuhan regulasi; dan
  • kebutuhan pembuktian.

ISO tidak meminta organisasi membuat dokumen sebanyak mungkin.

Membuat dan Memperbarui Dokumen

Ketika membuat atau memperbarui dokumen, organisasi perlu memastikan:

  • judul jelas;
  • kode dokumen sesuai;
  • tanggal ditetapkan;
  • nomor revisi tersedia;
  • format sesuai;
  • penanggung jawab jelas;
  • dokumen ditinjau;
  • dokumen disetujui; dan
  • versi yang berlaku dapat dikenali.

Mengendalikan Informasi Terdokumentasi

Pengendalian harus memastikan informasi:

  • tersedia ketika dibutuhkan;
  • mudah ditemukan;
  • dapat dibaca;
  • terlindung;
  • tidak diubah tanpa kewenangan;
  • menggunakan versi yang berlaku;
  • memiliki riwayat perubahan;
  • disimpan sesuai masa retensi; dan
  • dimusnahkan secara aman ketika tidak diperlukan.

Pengendalian juga perlu mencakup:

  • distribusi;
  • akses;
  • penggunaan;
  • penyimpanan;
  • perlindungan;
  • pencadangan;
  • pengendalian perubahan;
  • retensi; dan
  • pemusnahan.

Dokumen Eksternal

Dokumen eksternal yang diperlukan organisasi juga harus dikendalikan.

Contohnya:

  • undang-undang;
  • peraturan pemerintah;
  • peraturan menteri;
  • standar pendidikan;
  • kurikulum;
  • panduan aplikasi;
  • standar ISO;
  • kontrak;
  • dokumen pemasok; dan
  • pedoman mitra.

Organisasi perlu memastikan dokumen eksternal yang digunakan masih berlaku.

Dokumen Digital dan Penyimpanan Awan

Dokumen digital dapat digunakan selama dikendalikan dengan baik.

Organisasi perlu menetapkan:

  • lokasi penyimpanan resmi;
  • struktur folder;
  • hak akses;
  • tata nama berkas;
  • mekanisme persetujuan;
  • pengendalian versi;
  • pencadangan;
  • perlindungan data;
  • pemulihan data; dan
  • tanggung jawab pengelola.

Masalah umum dalam dokumen digital meliputi:

  • banyak versi dengan nama hampir sama;
  • dokumen resmi tersimpan di perangkat pribadi;
  • tautan dapat diakses semua orang;
  • tidak ada pencadangan;
  • pegawai menggunakan format lama;
  • file terhapus ketika pegawai keluar; dan
  • data sensitif dikirim melalui kanal yang tidak aman.

Hubungan Kelima Bagian Klausul 7

BagianPertanyaan utama
Sumber dayaApakah organisasi menyediakan kebutuhan untuk menjalankan proses?
KompetensiApakah orang yang bekerja mampu melaksanakan tugasnya?
KepedulianApakah mereka memahami kontribusi dan dampak pekerjaannya?
KomunikasiApakah informasi yang tepat sampai kepada pihak yang tepat?
Informasi terdokumentasiApakah pedoman dan bukti tersedia serta terkendali?

Kelima unsur tersebut tidak dapat dipisahkan.

Organisasi dapat memiliki pegawai yang kompeten, tetapi mereka sulit bekerja jika tidak memiliki sumber daya.

Organisasi dapat memiliki SOP, tetapi SOP tidak berguna jika pegawai tidak mengetahui atau menggunakan versi yang benar.

Organisasi dapat mengirim informasi, tetapi komunikasi gagal jika penerima tidak memahami tindakan yang harus dilakukan.

Bukti Penerapan Klausul 7

Bukti penerapan dapat berupa:

  • analisis kebutuhan sumber daya;
  • rencana anggaran;
  • data kebutuhan pegawai;
  • data pemeliharaan sarana;
  • daftar aset;
  • jadwal kalibrasi;
  • daftar pengetahuan organisasi;
  • standar kompetensi;
  • matriks kompetensi;
  • sertifikat dan hasil pelatihan;
  • evaluasi efektivitas pelatihan;
  • materi sosialisasi;
  • hasil wawancara pegawai;
  • matriks komunikasi;
  • bukti komunikasi;
  • daftar induk dokumen;
  • daftar dokumen eksternal;
  • riwayat revisi;
  • daftar hak akses;
  • jadwal retensi;
  • catatan pencadangan; dan
  • bukti pemusnahan dokumen.

Kesalahan Umum dalam Penerapan Klausul 7

1. Menganggap sumber daya hanya sebagai anggaran

Sumber daya juga mencakup manusia, infrastruktur, lingkungan kerja, alat ukur, dan pengetahuan.

2. Menganggap sertifikat sebagai bukti kompetensi yang cukup

Kompetensi harus terlihat dalam kemampuan dan hasil kerja.

3. Menganggap kehadiran pelatihan sebagai bukti efektivitas

Organisasi perlu menilai perubahan kemampuan dan kinerja setelah pelatihan.

4. Menyamakan kepedulian dengan sosialisasi

Sosialisasi merupakan cara. Kepedulian terlihat dari pemahaman dan perilaku.

5. Menganggap pesan sudah efektif karena telah dikirim

Komunikasi baru efektif jika diterima, dipahami, dan ditindaklanjuti.

6. Membuat terlalu banyak dokumen

Dokumen harus membantu proses, bukan membebani pelaksana.

7. Tidak mengendalikan dokumen digital

Dokumen dalam Google Drive, aplikasi, email, atau LMS tetap harus dikendalikan.

8. Menggunakan dokumen lama

Versi yang tidak berlaku dapat menyebabkan proses dilaksanakan dengan cara yang salah.

Contoh Rumusan Klausul 7 dalam Manual Mutu

7. Dukungan

Yayasan menentukan dan menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk membangun, menerapkan, memelihara, dan meningkatkan Sistem Manajemen Mutu. Sumber daya tersebut mencakup manusia, infrastruktur, lingkungan proses, sumber daya pemantauan dan pengukuran, serta pengetahuan organisasi.

Yayasan menentukan kompetensi yang diperlukan bagi personel yang memengaruhi kinerja dan efektivitas Sistem Manajemen Mutu. Kompetensi dipenuhi melalui pendidikan, pelatihan, pengalaman, pendampingan, rekrutmen, atau tindakan lain yang sesuai. Efektivitas tindakan peningkatan kompetensi dievaluasi dan bukti kompetensi dipelihara.

Yayasan memastikan seluruh personel memiliki kepedulian terhadap Kebijakan Mutu, sasaran mutu yang relevan, kontribusinya terhadap efektivitas sistem, manfaat peningkatan kinerja, serta dampak ketidakpatuhan terhadap persyaratan.

Komunikasi internal dan eksternal direncanakan dengan menetapkan informasi yang dikomunikasikan, waktu, penerima, media, dan penanggung jawab komunikasi.

Informasi terdokumentasi yang diperlukan Sistem Manajemen Mutu dibuat, diperbarui, tersedia, terlindung, dan dikendalikan. Pengendalian mencakup identifikasi, persetujuan, distribusi, akses, penggunaan, penyimpanan, perlindungan, pengendalian perubahan, retensi, dan pemusnahan.

 

Dukungan Mengubah Rencana Menjadi Kemampuan

Klausul 7 tidak hanya membahas fasilitas dan dokumen.

Klausul ini memastikan organisasi memiliki kemampuan untuk menjalankan rencananya.

Kemampuan tersebut terbentuk ketika:

  • sumber daya tersedia;
  • orang memiliki kompetensi;
  • pegawai peduli terhadap mutu;
  • informasi dikomunikasikan secara tepat; dan
  • dokumen serta data dikendalikan.

Sistem mutu tidak gagal hanya karena rencananya buruk. Sistem juga dapat gagal karena organisasi tidak menyiapkan dukungan yang cukup untuk melaksanakannya.

0 Komentar